Kuliah IT tidak berguna? Betulkah?

Pagi ini saya sempat membaca satu artikel yang cukup menarik, mengenai 4 alasan yang membuat kuliah IT tidak berguna. Sebelum saya membahasnya, perlu saya ingatkan bahwa gelar sarjana atau S1 komputer cukup menjadi faktor penting atau bahkan faktor utama diterimanya bekerja di Indonesia sebagai programmer.

Gelar S1 Komputer (Sarjana Komputer)

Kemungkinan terbesar seseorang berniat menjalani dan menyelesaikan perkuliahan adalah untuk mendapatkan gelar S1. Minimal, gelar s.komp berlaku di perusahaan-perusahaan besar yang bidang usaha utamanya bukan di IT. Misal perbankan dan finansial sejenisnya, exportir-importir besar, perusahaan perminyakan, perusahaan produksi seperti mi instant dan lainnya. Startup-startup baru sepertinya lebih longgar mengenai gelar s1 saat perekrutan programmer.

Sepertinya bagus untuk dilakukan survey, untuk mencari tahu seberapa relevan gelar S1 komputer sebagai programmer saat ini.

Algoritma, analisa dan soft skill

Ada hal-hal yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mempelajari pemograman saja dari internet, di antaranya algoritma, analisa, soft skill dan pengetahuan mengenai sistem. Perlu pengalaman dan latihan sendiri untuk mengasah kemampuan-kemampuan itu. Mungkin tidak tampak saat coding, bahwa skill-skill tersebut cukup besar manfaatnya dalam pengembangan sistem.

Tahukah anda, bahwa ada beberapa faktor yang menjadi tolak ukur kualitas system? Ini adalah beberapa di antaranya. Tahukah anda apa itu SDLC (Software Development Life Cycle)? OOAD (Object Oriented Analysis and Design)? Algoritma bubble sort, linked list, recursive? Soft skill seperti cara presentasi, komunikasi, kerja group dan diskusi. Banyak skill tersebut yang mungkin tidak anda kenal bila hanya mempelajari pemograman saja, tetapi diajarkan di universitas.

Note: skill-skill di atas berdasarkan pada pengalaman saya saat kuliah S1 Sistem Informasi di Bina Nusantara (BINUS).

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), koneksi dan networking

Perkuliahan tidak hanya belajar saja. Koneksi, relasi dan networking bisa dibangun selama perkuliahan. Bisa saja anda menemukan partner yang tepat untuk membangun startup selama masa kuliah. Atau bisa saja menemukan pasangan hidup :).  UKM-UKM di universitas sangat berguna dan memberi pengalaman yang baik seperti mengatur seminar / acara, berhubungan dengan orang-orang yang bisa saja berpengaruh (seperti CEO startup atau pembicara), dan sekali lagi networking. Memiliki banyak networking sangat bermanfaat di dunia profesional nantinya.

Secara pribadi, saya memang tidak mengikuti UKM saat kuliah dulu. Berkaca pada saat ini, saya sangat menyarankan para mahasiswa/i untuk mengikuti UKM yang berhubungan dengan profesi yang ingin digeluti nantinya, misal computer club, atau yang dapat mengembangan soft skill, seperti english club. Pengalaman dalam UKM juga dapat disertakan di CV (curriculum vitae) sebagai pendukung sertifikasi.

Dosen juga manusia

Gali ilmu dan pengalaman dosen

Dan yang perlu ditekankan, dosen (apalagi dosen senior) adalah orang yang sudah berpengalaman di bidangnya, dan sudah/sedang mengalami dunia profesionalisme.

Jangan menyamakan kuliah dengan sekolah, di mana anda datang ke kelas, mengikuti pelajaran yang diberikan lalu pulang. Buat relasi dengan dosen, gali pengalaman-pengalaman dosen dan cari tahu pandangannya mengenai dunia profesionalisme. Asah kemampuan di rumah dan diskusikan hambatan-hambatan yang anda temui saat bertemu dengan dosen, setelah selesai kelas misalnya.

Sesi bimbingan dengan dosen, misal saat skripsi, sangat berguna dan tidak boleh disia-siakan. Dapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari orang yang sudah berpengalaman.

Take a project

Masa-masa perkuliahan memiliki waktu luang yang sangat banyak. Jadwal kuliah seminggu mungkin hanya sekitar 40 jam. Libur semester genap saja bisa sampai 1 bulan. Waktu yang ada itu jangan disia-siakan. Anda bisa mengambil project berbayar, mengambil part time, atau melakukan hobby project untuk sekedar melatih ilmu. Pergunakan github atau public repository lainnya dalam hobby project, agar nantinya dapat disertakan di CV.

Bekerja paruh waktu dan kuliah malam juga biasanya menjadi pilihan untuk mengambil gelar di saat tetap produktif.

Sistem perkuliahan IT

Berhubungan dengan artikel awal, 4 alasan yang membuat kuliah IT tidak berguna, tidak dapat dipungkiri bahwa perkuliahan IT di Indonesia masih kurang maksimal. Point 3 yang berbunyi “BANYAK SARJANA KOMPUTER TIDAK MAMPU JADI PROGRAMMER, HANYA JADI INSTALLATOR” juga adalah fakta. Akhirnya mahasiswa perlu melakukan usaha lebih untuk menutup kekurangan-kekurangan dari tidak efektifnya sistem perkuliahan.

Di samping itu, faktor mahalnya biaya perkuliahan bisa dianggap menjadi hambatan, dan menurunkan pandangan orang terhadap nilai-nilai tambah yang bisa diperoleh dalam dunia perkuliahan.

Kesimpulan

Kuliah tidak berguna bila skill yang mau dikembangan hanya sebatas skill pemograman saja. Tetapi bila ingin berkarya di dunia profesional, satu skill pemograman saja biasanya tidak cukup. Perkuliahan dapat membantu, atau lebih tepatnya menyediakan jalan untuk melengkapi skill-skill tersebut.

Is Artificial Intelligence can become dangerous?

This article is purely my opinion about dangers present in Artificial Intelligence, based on arguments between two amazing person in computer fields, Mark Zuckerberg and Elon Musk about it. In short, Elon says that there is danger present in non-regularized A.I. development, while Mark says not (one example article).

I don’t want to discuss or guessing who is right or wrong, and considering that application and fields in Artifical Intelligence is very wide, we cannot decide anything based on several fields. Furthermore my understanding about A.I. is far more limited than theirs are, so saying that one is right and another isn’t, is nonsense. But let’s say that I agree with Elon that in some cases, AI can be devastating, and it is because our lack of control and security concern.

One of A.I. design is to mimic us

The above video is MarI/O, machine learning (a part of Artificial Intelligence) for classic game Super Mario World in SNES (oh, how nostalgic). It shows how it learns to beat a stage using experience gained from losing each time. It is seems like a very simple application of AI, though at current technology, it’s kind of amazing.

Now what if we can somehow develop the same system with purpose of bypassing captcha? Kind of similar with virus vs antivirus, it is a game of cat and mouse, captcha vs bot is a game of cat and mouse. Captcha must evolve to keep able to detect bots, and bots need to evolve to keep able to fool Captcha. It’s a constant battle.

Assuming that bot can be evolved using supercomputer and machine learning and it’s so advanced so it can mimic us, humans flawlessly, then Captcha is fighting a losing battle. At worst, captcha will even prevent human from access.

Now what will happen if that resource is focused towards development of hacking tools, powered by supercomputer? That hacking tools are being armed with skills from clever hackers and improved overtime from experience and trial and error. One of the existing application of programmed hacking, by brute-force attack, is the example. Fortunately, brute-force attack is being greatly mitigated with account locking and captcha.

Now that when the tools are ready, it then mounted on hundreds of supercomputers to exploit the vulnerabilities existing in internet. How much outrage will happen at that time? Many sites will be hacked at same time, many other will be down. Considering our credit card and banking information exists there, it is also at risk to be blown over. Combine with Ransomware like WannaCry, it’ll make matters worse. What’ll happen if GitHub fall over because of that?

Lack of Control

Soon, we will have autonomous driving car in the streets. They’ll become common. Now what will happen if for one time there occurs a system failure? Maybe due to short circuit, deteriorating hardware or even cosmic ray. Usually it’s being handled by changing the control to manual mode, but how if at the same time, due to how advanced the A.I. has become, that the A.I. decided to not give away control? Or more realistically, if the passenger / driver is too unaware or distracted to act on specific time. It’ll be bad.

In a current, simpler case will be when a gas pedal is stuck at automatic car. In manual car, pressing the clutch will definitely cancel the acceleration. Put the gear to natural for further safety, then no danger will present. However in automatic car, it needs the gear to change to neutral, still with a chance of error. It’s not much, but the more we lose control over something, the more dangerous it will be.

Even in today’s lifestyle, companies will try to use A.I. to sell you more goods. Sometimes you don’t realize, but for they who don’t notice it, they can be powerless in front of those companies, only to burn more bucks for them.

Smart encryption

So let’s say that terrorist already develop an evolving-tightly-encrypted, anti-spy messaging service via internet. They can use that platform to communicate each other, freely, without able to be tracked by government or officials. Worse if they actually can hack into officials (police or army) communication line, they can get the security hole to perform some action.

No robots?

AI robots situation like Terminator or I, Robot maybe possible in distant future, but not in near future. Limitation of energy supply and processing power is one of the big cause they cannot be realized soon. Furthermore the lacking of robot-shaped humans hinders them in place / specific area. As xkcd has explained, it’s very unlikely for it to happen.

Conclusion

The way A.I. can be dangerous is not in a physical form that is popular in movies, like robot apocalypse. It is more related to our daily life, our interaction with computers and security concern.

Newbie? Baca ini dulu

“Liburan sebentar lagi nih, iseng-iseng mau belajar programming ah”

“Mau coba cara bikin website e-commerce nih”

“Mau coba pemograman android nih”

Mulai dari mana ya?

Pemula-pemula yang baru mau mulai masuk ke dunia programming / IT biasanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seperti “bagaimana caranya”, “mulai dari mana”, “cari di mana”, “ada contohnya nggak” dan lain-lainnya. Sementara, sebagian besar programmer berpengalaman, yang sehari-hari kerjaannya nge-google nyari-nyari info dan solusi, rata-rata nggak suka dengan pertanyaan seperti itu. Rata-rata programmer memang harus bisa mandiri dan bisa cari (baca: google) solusi sendiri. Tapi pemula yang nggak ngerti apa-apa juga akan bingung mau cari apa. Maka dari itu, sebelum mulai bertanya ada baiknya baca petunjuk-petunjuk ini dulu:

(more…)

Oh PHP empty…

Salah satu kelemahan terbesar PHP menurut saya adalah di null / value checking. Melihat bagaimana PHP adalah interpret language berarti validasi undefined value tidak dapat dilakukan di level compiler. Lalu bagaimana PHP adalah dynamic typing juga membuat null checking lebih sulit.

Null / Undefined

Ada 2 jenis variable kosong, yaitu null dan undefined. Variable null berarti variable tersebut pernah di-declare, dan di-initialize nilainya sebagai NULL. Undefined variable, adalah variable yang tidak pernah di-declare atau sudah di-declare namun tidak pernah di-initialize. Contoh:

$null = NULL; //null variable
$null2; //masih undefined
$null = $null + 1; //nilai $null jadi 1
$null = NULL;
echo $null["key"] === NULL ? "true" : "false"; //hasilnya true
$undefined = $undefined + 1; //error undefined variable

Lucunya di PHP, NULL dianggap sebagai sebuah value. Hal ini membuat operasi matematik / string yang berinteraksi dengan NULL tidak error, seperti contoh penambahan di atas. Untuk operasi matematik, NULL dianggap 0 dan untuk operasi string maka null dianggap string kosong. Bahkan untuk array, NULL hanya akan menghasilkan nilai NULL lagi dan tidak error.

empty / isset

Tadi kita sudah melihat bagaimana null dianggap sebagai value. Tetapi tidak pada pengecekan empty / isset. Anehnya lagi, kedua operasi tersebut tidak 100% berlainan dengan arti kata !empty == isset. Anggap kita menggunakan satu set variable sebagai berikut untuk mengecek validasi empty / isset:

$one = 1;
$two = 0;
$three = "";
$four = " ";
$five = "0";
$six = "false";
$seven = false;
$eight = [];
$null = NULL;
$null2;

Snippet untuk mengecek empty

echo 'empty($one) ';
echo empty($one) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($two) ';
echo empty($two) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($three) ';
echo empty($three) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($four) ';
echo empty($four) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($five) ';
echo empty($five) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($six) ';
echo empty($six) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($seven) ';
echo empty($seven) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($eight) ';
echo empty($eight) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($null) ';
echo empty($null) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($null2) ';
echo empty($null2) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($undefined) ';
echo empty($undefined) === true ? "true" : "false";
echo "\n";

Snippet untuk mengecek isset

echo 'isset($one) ';
echo isset($one) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($two) ';
echo isset($two) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($three) ';
echo isset($three) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($four) ';
echo isset($four) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($five) ';
echo isset($five) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($six) ';
echo isset($six) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($seven) ';
echo isset($seven) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($eight) ';
echo isset($eight) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($null) ';
echo isset($null) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($null2) ';
echo isset($null2) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($undefined) ';
echo isset($undefined) === true ? "true" : "false";
echo "\n";

Hasilnya

empty($one) false
empty($two) true
empty($three) true
empty($four) false
empty($five) true
empty($six) false
empty($seven) true
empty($eight) true
empty($null) true
empty($null2) true
empty($undefined) true

isset($one) true
isset($two) true
isset($three) true
isset($four) true
isset($five) true
isset($six) true
isset($seven) true
isset($eight) true
isset($null) false
isset($null2) false
isset($undefined) false

Untuk isset logikanya cukup mudah, semua variable yang sudah di set dengan nilai apapun terkecuali NULL menghasilkan true. Untuk empty cukup beragam, sebuah variable dianggap empty bila bernilai string kosong($three), string 0 ($five), boolean false ($seven), int 0 ($two) dan array kosong ($eight).

Encapsulate in function

Khusus untuk validasi undefined, saya belum menemukan cara lain kecuali dengan empty atau isset. Contoh dalam snippet kode berikut:

function isNullOrEmpty($str){
	return !(isset($str) && $str != '');
}
echo 'isNullOrEmpty($six) ';
echo isNullOrEmpty($six) ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isNullOrEmpty($null) ';
echo isNullOrEmpty($null) ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isNullOrEmpty($undefined) ';
echo isNullOrEmpty($undefined) ? "true" : "false";
echo "\n";

Hanya kode yang menggunakan variable $undefined saja yang menghasilkan PHP notice / error, lainnya tidak. Hal ini berarti kita tidak dapat meng-encapsulate function empty ke beberapa function validasi lain, seperti stringIsNullOrEmpty dan stringIsNullOrWhitespace.

Kesimpulan dan saran

Variable null dan undefined di-handle berbeda oleh PHP. Function empty dan isset juga menghasilkan validasi yang berbeda. Khusus untuk validasi variable undefined, saya belum menemukan function selain empty dan isset yang dapat meng-handle nya.

Sebagai programmer yang sudah lama menggunakan static type dan compiled language (C#), saya sudah terbiasa untuk melakukan variable declaration sehingga kemungkinan terjadinya undefined variable lebih kecil. Cukup baik untuk terbiasa melakukan variable declaration di awal function terlebih dulu untuk meminimalisir validasi empty / isset.

Pergunakan isset bila ingin me-validasi false dan empty value. Pergunakan empty bila sudah tahu kriteria-kriteria validasi yang dilakukan empty.

Software Modification Cost

Dalam dunia IT, sering kita lihat perbedaan harga yang cukup signifikan antara vendor A dan vendor B dalam men-develop sebuah software. Ada beberapa faktor yang membedakan kualitas software yang dihasilkan dari vendor-vendor yang berbeda tersebut, seperti bug tracking, banyaknya bug, garansi support. Namun faktor yang akan dibahas di sini adalah seberapa mudah software yang sudah ada diubah / dimodifikasi.

Faktor kemudahan dalam mengubah software itu kita sebut saja sebagai software modification cost atau beban me-modifikasi software.

Bagaimana cara menghitung modification cost

Saat mendapatkan task untuk modifikasi, saya terbiasa untuk menghitung-hitung tingkat kesulitannya dan berapa waktu yang diperlukan. Pengalaman saya, waktu yang diperlukan untuk QA / testing adalah hampir 40-50 persen dari waktu development, bergantung dari kompleksitas dan bagusnya kode / arsitektur. Namun waktu untuk QA sering diacuhkan dan sering tidak dialokasikan.

Selain dari waktu yang diperlukan, setiap perubahan juga akan meningkatkan faktor resiko kesalahan, baik yang akan ditemukan dalam testing maupun tidak. Faktor resiko tersebut ada yang langsung berpengaruh ke finansial dan ada yang hanya mengesalkan user. Maka dari itu saya menganggap perhitungan modification cost sebagai:

development in hour + QA in hour + peningkatan resiko kesalahan

Bagaimana function / class mempengaruhi modification cost

Pertama, mari kita lihat potongan kode php berikut:

echo $isDone === true ? "yes" : "no";

Kode di atas mencetak tulisan “yes” bila variable $isDone bernilai true, dan no bila sebaliknya. Potongan kode di atas cukup sederhana, dan sering di copy-paste langsung di view. Semua terlihat baik dan indah.

Namun suatu hari, request untuk modifikasi datang. Tulisan yes dan no di atas perlu diubah menjadi ya dan tidak (dalam bahasa Indonesia). Seberapa sulit perubahan tersebut dilakukan? Katakan saja kode tersebut berada di 15 view yang berbeda. Maka modification cost menjadi 15 * n, di mana n adalah menit / detik untuk melakukan perubahan. Cost tersebut, belum dihitung / ditambah dengan kemungkinan adanya kode dalam view yang luput untuk diubah, atau perubahan salah sehingga menghasilkan syntax error.

Wrap in function

Sekarang untuk mengurangi modification cost tersebut, sang programmer membuat sebuah function untuk mencetak nilainya. Function tersebut di-define seperti berikut:

function boolToYesNo($value){
  return $isDone === true ? "yes" : "no";
}
echo boolToYesNo($isDone);

Bila ada request modifikasi seperti di atas, maka modification cost pada function tersebut bisa 15 kali lebih rendah dibandingkan dengan copy-paste kode di atas. Waktu yang diperlukan untuk QA dan tingkat kesalahan juga lebih rendah dari kode sebelumnya.

Lalu suatu hari, ada request modifikasi untuk mendukung multi-language. Lalu bila function di atas diubah untuk menerima kode bahasa yang dimaksud, maka kira-kira seperti berikut:

function boolToYesNo($value, $languagecode = "en"){
  if($languagecode == "en"){
    return $isDone === true ? "yes" : "no";
  }
  else if($languagecode == "id"){
    return $isDone === true ? "ya" : "tidak";
  }
}
echo boolToYesNo($isDone, $languagecode);

Modification cost-nya? Kembali sama seperti di awal, yaitu 15* menit / detik yang diperlukan + peningkatan resiko. Lalu bagaimana bila tulisan yang mau dicetak diawali dengan huruf besar (perfect case)? Modification cost nya tidak dapat ditekan. Maka dari itu sang programmer membuat class seperti berikut:

class BoolToYesNo{
  public function __construct($context = NULL){
    $this->context = (object)array_merge(["languagecode" => "en"], (array)$context);
    $this->languages = [
      "en" => [true => "yes", false => "no"],
      "id" => [true => "ya", false => "tidak"]
    ];
  }
  private $context;
  private $languages;
  public function print($value, $options = NULL){
    $options = (object)array_merge((array)$options, ["case" => "lower"]);
    if($options->case == "upper"){ return strtoupper($this->languages[$this->context->languagecode][$value]); }
    else if($options->case == "lower"){ return $this->languages[$this->context->languagecode][$value]; }
  }
}

Wah untuk mencetak yes dan no saja kodenya rumit begitu. Bila menghitung development cost di awal, sangat tinggi. Namun modification cost-nya sangat rendah.

Conclusion

Mengurangi software modification cost tidak mudah, dan umumnya ada trade-off (pertukaran) antara initial development time dengan modification cost. Pengalaman dalam pemograman dan requirement yang semakin jelas di awal dapat membantu mengurangi software modification cost.

Sedikit banyak, topik ini juga menyangkut dalam technical debt.

skill

Saya programmer dengan skill tinggi, saya pasti bisa sukses – Part 2

Sebelumnya dalam artikel dengan judul yang sama, saya pernah menjelaskan bagaimana soft skill-soft skill di luar programming, terutama yang berkaitan dengan organisasi dan komunikasi, dapat membawa manfaat tambahan bagi programmer. Kali ini, saya akan coba membahas situasi-situasi yang ternyata kebalikannya, di mana soft skill tidak terlalu bermanfaat bagi programmer.

Startup / perusahaan kecil dengan CEO dan CTO yang kuat

Startup / perusahaan kecil umumnya didirikan oleh 2 founder, yaitu CEO (Chief Executive Officer) dan CTO (Chief Technology Officer). Untuk beberapa startup yang foundernya cuma sendiri, biasanya memegang peran ganda, yaitu CEO dan CTO secara bersamaan.

CEO mengurus semua aspek bisnis non-technical, seperti requirement, marketing, funding, networking, mencari client dan aspek-aspek bisnis non-technical IT (seperti merekrut driver di gojek). Sementara CTO mengurus semua aspek technical IT, seperti server, arsitektur, bahasa pemograman, framework dan lainnya.

CEO yang berpengalaman akan dapat men-handle aspek-aspek non-technical IT, terutama yang berurusan dengan user / client. Untuk hal-hal technical IT yang memerlukan keterlibatan user, maka CTO dapat me-handle nya. Karena sudah di-handle oleh CEO dan CTO, maka programmer hanya perlu mengerjakan requirement dan mengikuti arahan dari CTO (atau project manager bila ada).

Karena perusahaan kecil tidak mampu mempekerjakan banyak karyawan, maka semakin tinggi skill programmer dan analisanya, maka semakin diminati. Soft skill yang diperlukan hanya komunikasi umum (sehari-hari) dan sedikit kemampuan analisis, agar dapat memahami requirement dan arahan. Karena kemungkinan bagi programmer untuk berhubungan dengan user kecil, maka skill negosiasi dan komunikasi yang tinggi tidak terlalu bermanfaat.

Developing non-business application

Menurut saya, applikasi dapat dibagi menjadi 2 dari aspek penggunaan. Pertama adalah tools. yang fungsi applikasinya lebih umum, dapat digunakan oleh lebih banyak user, dan tidak terlalu terikat pada bisnis tertentu. Contohnya seperti photoshop, notepad bahkan database oracle. Sementara applikasi lainnya adalah implementation, di mana penggunaannya spesifik untuk satu unit bisnis tertentu, dan sangat erat dengan proses bisnis si pengguna. Contohnya applikasi POS, accounting, dll. Tentu saja applikasi tidak dapat dibedakan seperti hitam dan putih. Bisa saja sebuah applikasi memiliki karakteristik keduanya. Contohnya seperti cloud accounting.

Sebagai programmer, semakin applikasi yang di-develop ke arah tools, maka semakin sedikit soft skill yang dibutuhkan. Begitu pula sebaliknya, semakin applikasi yang di develop mengarah ke implementation, maka semakin banyak soft skill yang dibutuhkan. Hal ini karena programmer mengembangkan applikasi yang langsung di-request oleh user, maka keterlibatan user dalam pengembangan menjadi lebih tinggi. Semakin applikasi yang di-develop mengarah ke tools, maka teknologi yang diperlukan dan kompleksitasnya akan semakin tinggi (lebih tinggi dari implementation), sehingga daripada soft skill, skill technical yang tinggi jauh lebih diperlukan.

Kesimpulan

Dalam beberapa kondisi, soft skill akan sangat membantu programmer di dunia kerja dan meraih sukses. Namun dalam kondisi lainnya, skill technical dari programmer dapat menjadi satu-satunya parameter penentu keberhasilan seseorang. Mengetahui ini, maka programmer dapat menentukan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengembangkan diri dan karir.

Assignment vs addition

Umumnya, operasi dalam pemograman adalah operasi assignment, di mana sebuah nilai di-set ke dalam sebuah variable tertentu. Contoh: player.setHealth(100); player.health = 100. Operasi tersebut me-set HP dari pemain menjadi 100.

Sementara addition (atau subtraction, multiplication, etc), adalah pengubahan nilai sebuah variable dengan nilai yang ada saat ini sebagai acuannya. Contoh: player.removeHealth(50); player.health = player.health - 50. Operasi ini mengurangi HP pemain sebanyak 50 dari jumlah HP yang ada. Perlu diketahui dalam operasi addition, tidak diketahui berapa nilai variable saat itu dan tidak diketahui nilai variable barunya. Yang diketahui adalah berapa besar perubahan nilai antara variable yang baru dengan nilai sebelumnya.

Assignment atau addition

Dalam beberapa kasus, ada beberapa function yang tidak jelas apakah operasi tersebut melakukan assignment atau addition. Contoh: function run(Direction direction, int step); player.run(Direction.Right, 10). Function tersebut tidak jelas apakah player akan bergerak ke kanan sebanyak 10 langkah dari posisinya, atau dari titik nol.

Bila kita ubah sedikit nama functionnya, misalnya menjadi function runTo(Direction direction, int step); player.runTo(Direction.Right, 10). Function tersebut cukup jelas bahwa operasinya merupakan assignment, yang mana akan me-set posisi pemain sebanyak 10 step ke arah kanan dari posisi nol.

Function seperti function resize(int height, int width); function resizeTo(int height, int width); function enlarge(int height, int width);. Function resize tidak terlalu jelas apakah merupakan assignment atau addition, sementara resizeTo dan enlarge dapat digunakan untuk memperjelas operasinya.

Conclusion

Apabila dalam me-desain sebuah function, pastikan nama function tersebut jelas operasinya. Apabila dalam menggunakan sebuah function yang nama operasinya tidak jelas, test dulu dengan beberapa kode snippet untuk mempermudah debugging.