skill

Saya programmer dengan skill tinggi, saya pasti bisa sukses – Part 2

Sebelumnya dalam artikel dengan judul yang sama, saya pernah menjelaskan bagaimana soft skill-soft skill di luar programming, terutama yang berkaitan dengan organisasi dan komunikasi, dapat membawa manfaat tambahan bagi programmer. Kali ini, saya akan coba membahas situasi-situasi yang ternyata kebalikannya, di mana soft skill tidak terlalu bermanfaat bagi programmer.

Startup / perusahaan kecil dengan CEO dan CTO yang kuat

Startup / perusahaan kecil umumnya didirikan oleh 2 founder, yaitu CEO (Chief Executive Officer) dan CTO (Chief Technology Officer). Untuk beberapa startup yang foundernya cuma sendiri, biasanya memegang peran ganda, yaitu CEO dan CTO secara bersamaan.

CEO mengurus semua aspek bisnis non-technical, seperti requirement, marketing, funding, networking, mencari client dan aspek-aspek bisnis non-technical IT (seperti merekrut driver di gojek). Sementara CTO mengurus semua aspek technical IT, seperti server, arsitektur, bahasa pemograman, framework dan lainnya.

CEO yang berpengalaman akan dapat men-handle aspek-aspek non-technical IT, terutama yang berurusan dengan user / client. Untuk hal-hal technical IT yang memerlukan keterlibatan user, maka CTO dapat me-handle nya. Karena sudah di-handle oleh CEO dan CTO, maka programmer hanya perlu mengerjakan requirement dan mengikuti arahan dari CTO (atau project manager bila ada).

Karena perusahaan kecil tidak mampu mempekerjakan banyak karyawan, maka semakin tinggi skill programmer dan analisanya, maka semakin diminati. Soft skill yang diperlukan hanya komunikasi umum (sehari-hari) dan sedikit kemampuan analisis, agar dapat memahami requirement dan arahan. Karena kemungkinan bagi programmer untuk berhubungan dengan user kecil, maka skill negosiasi dan komunikasi yang tinggi tidak terlalu bermanfaat.

Developing non-business application

Menurut saya, applikasi dapat dibagi menjadi 2 dari aspek penggunaan. Pertama adalah tools. yang fungsi applikasinya lebih umum, dapat digunakan oleh lebih banyak user, dan tidak terlalu terikat pada bisnis tertentu. Contohnya seperti photoshop, notepad bahkan database oracle. Sementara applikasi lainnya adalah implementation, di mana penggunaannya spesifik untuk satu unit bisnis tertentu, dan sangat erat dengan proses bisnis si pengguna. Contohnya applikasi POS, accounting, dll. Tentu saja applikasi tidak dapat dibedakan seperti hitam dan putih. Bisa saja sebuah applikasi memiliki karakteristik keduanya. Contohnya seperti cloud accounting.

Sebagai programmer, semakin applikasi yang di-develop ke arah tools, maka semakin sedikit soft skill yang dibutuhkan. Begitu pula sebaliknya, semakin applikasi yang di develop mengarah ke implementation, maka semakin banyak soft skill yang dibutuhkan. Hal ini karena programmer mengembangkan applikasi yang langsung di-request oleh user, maka keterlibatan user dalam pengembangan menjadi lebih tinggi. Semakin applikasi yang di-develop mengarah ke tools, maka teknologi yang diperlukan dan kompleksitasnya akan semakin tinggi (lebih tinggi dari implementation), sehingga daripada soft skill, skill technical yang tinggi jauh lebih diperlukan.

Kesimpulan

Dalam beberapa kondisi, soft skill akan sangat membantu programmer di dunia kerja dan meraih sukses. Namun dalam kondisi lainnya, skill technical dari programmer dapat menjadi satu-satunya parameter penentu keberhasilan seseorang. Mengetahui ini, maka programmer dapat menentukan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengembangkan diri dan karir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s