Kuliah IT tidak berguna? Betulkah?

Pagi ini saya sempat membaca satu artikel yang cukup menarik, mengenai 4 alasan yang membuat kuliah IT tidak berguna. Sebelum saya membahasnya, perlu saya ingatkan bahwa gelar sarjana atau S1 komputer cukup menjadi faktor penting atau bahkan faktor utama diterimanya bekerja di Indonesia sebagai programmer.

Gelar S1 Komputer (Sarjana Komputer)

Kemungkinan terbesar seseorang berniat menjalani dan menyelesaikan perkuliahan adalah untuk mendapatkan gelar S1. Minimal, gelar s.komp berlaku di perusahaan-perusahaan besar yang bidang usaha utamanya bukan di IT. Misal perbankan dan finansial sejenisnya, exportir-importir besar, perusahaan perminyakan, perusahaan produksi seperti mi instant dan lainnya. Startup-startup baru sepertinya lebih longgar mengenai gelar s1 saat perekrutan programmer.

Sepertinya bagus untuk dilakukan survey, untuk mencari tahu seberapa relevan gelar S1 komputer sebagai programmer saat ini.

Algoritma, analisa dan soft skill

Ada hal-hal yang tidak bisa diperoleh hanya dengan mempelajari pemograman saja dari internet, di antaranya algoritma, analisa, soft skill dan pengetahuan mengenai sistem. Perlu pengalaman dan latihan sendiri untuk mengasah kemampuan-kemampuan itu. Mungkin tidak tampak saat coding, bahwa skill-skill tersebut cukup besar manfaatnya dalam pengembangan sistem.

Tahukah anda, bahwa ada beberapa faktor yang menjadi tolak ukur kualitas system? Ini adalah beberapa di antaranya. Tahukah anda apa itu SDLC (Software Development Life Cycle)? OOAD (Object Oriented Analysis and Design)? Algoritma bubble sort, linked list, recursive? Soft skill seperti cara presentasi, komunikasi, kerja group dan diskusi. Banyak skill tersebut yang mungkin tidak anda kenal bila hanya mempelajari pemograman saja, tetapi diajarkan di universitas.

Note: skill-skill di atas berdasarkan pada pengalaman saya saat kuliah S1 Sistem Informasi di Bina Nusantara (BINUS).

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), koneksi dan networking

Perkuliahan tidak hanya belajar saja. Koneksi, relasi dan networking bisa dibangun selama perkuliahan. Bisa saja anda menemukan partner yang tepat untuk membangun startup selama masa kuliah. Atau bisa saja menemukan pasangan hidup :).  UKM-UKM di universitas sangat berguna dan memberi pengalaman yang baik seperti mengatur seminar / acara, berhubungan dengan orang-orang yang bisa saja berpengaruh (seperti CEO startup atau pembicara), dan sekali lagi networking. Memiliki banyak networking sangat bermanfaat di dunia profesional nantinya.

Secara pribadi, saya memang tidak mengikuti UKM saat kuliah dulu. Berkaca pada saat ini, saya sangat menyarankan para mahasiswa/i untuk mengikuti UKM yang berhubungan dengan profesi yang ingin digeluti nantinya, misal computer club, atau yang dapat mengembangan soft skill, seperti english club. Pengalaman dalam UKM juga dapat disertakan di CV (curriculum vitae) sebagai pendukung sertifikasi.

Dosen juga manusia

Gali ilmu dan pengalaman dosen

Dan yang perlu ditekankan, dosen (apalagi dosen senior) adalah orang yang sudah berpengalaman di bidangnya, dan sudah/sedang mengalami dunia profesionalisme.

Jangan menyamakan kuliah dengan sekolah, di mana anda datang ke kelas, mengikuti pelajaran yang diberikan lalu pulang. Buat relasi dengan dosen, gali pengalaman-pengalaman dosen dan cari tahu pandangannya mengenai dunia profesionalisme. Asah kemampuan di rumah dan diskusikan hambatan-hambatan yang anda temui saat bertemu dengan dosen, setelah selesai kelas misalnya.

Sesi bimbingan dengan dosen, misal saat skripsi, sangat berguna dan tidak boleh disia-siakan. Dapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari orang yang sudah berpengalaman.

Take a project

Masa-masa perkuliahan memiliki waktu luang yang sangat banyak. Jadwal kuliah seminggu mungkin hanya sekitar 40 jam. Libur semester genap saja bisa sampai 1 bulan. Waktu yang ada itu jangan disia-siakan. Anda bisa mengambil project berbayar, mengambil part time, atau melakukan hobby project untuk sekedar melatih ilmu. Pergunakan github atau public repository lainnya dalam hobby project, agar nantinya dapat disertakan di CV.

Bekerja paruh waktu dan kuliah malam juga biasanya menjadi pilihan untuk mengambil gelar di saat tetap produktif.

Sistem perkuliahan IT

Berhubungan dengan artikel awal, 4 alasan yang membuat kuliah IT tidak berguna, tidak dapat dipungkiri bahwa perkuliahan IT di Indonesia masih kurang maksimal. Point 3 yang berbunyi “BANYAK SARJANA KOMPUTER TIDAK MAMPU JADI PROGRAMMER, HANYA JADI INSTALLATOR” juga adalah fakta. Akhirnya mahasiswa perlu melakukan usaha lebih untuk menutup kekurangan-kekurangan dari tidak efektifnya sistem perkuliahan.

Di samping itu, faktor mahalnya biaya perkuliahan bisa dianggap menjadi hambatan, dan menurunkan pandangan orang terhadap nilai-nilai tambah yang bisa diperoleh dalam dunia perkuliahan.

Kesimpulan

Kuliah tidak berguna bila skill yang mau dikembangan hanya sebatas skill pemograman saja. Tetapi bila ingin berkarya di dunia profesional, satu skill pemograman saja biasanya tidak cukup. Perkuliahan dapat membantu, atau lebih tepatnya menyediakan jalan untuk melengkapi skill-skill tersebut.

Advertisements

2 comments

  1. apa yg dimaksud installator ini it support? kalo jadi it support sih mungkin karena mereka dulunya memang tidak passion di bidang IT, karena pengen main game, atau hal hal lain yg bikin mereka kepengen pegang komputer terus, anyway jika yang diomongin bukan hanya sekedar it support tapi lebih kearah devops, mungkin bisa jadi pertanyaan lain lagi, devops itu ngerti programming ga sih? mungkin mereka tidak do code layaknya programming yang memang difokuskan di bagian itu (baca: Backend, frontend, fullstack). tapi mereka juga seharusnya / diwajibkan untuk mengerti struktur aplikasi, flow aplikasi, design aplikasi baik itu modelnya micro service, struktural ataupun model MVC, bahkan memungkinkan untuk mengerti unit testing.

    Seperti soal hacking, sql injection, xss attack, exploiting bugs dari macem macem sumber, perlu logika reverse engineering yang cukup untuk bisa terpikir kesana. Sudah pasti, dia bisa programming, cuma memang kerjaannya pentester, bukan programmer, makanya ga difokuskan kesana.

    memang pada akhirnya, bisa karena biasa jadi kunci untuk seseorang bisa berkiprah di dunia IT yang lagi maju majunya terutama dalam sisi development, project management dll

    jadi mungkin si pembuat artikel hanya fokus dengan diri dan pengalamannya sendiri, ada beberapa point yang saya setuju, tapi sepertinya kurang pas untuk dibaca :))

    Like

    1. Terima kasih atas masukannya. Mengutip dari artikel sumber: “Sisanya hanya jadi installator. Maksudnya hanya instal system Windows dan software lainnya.”

      Jadi kurang lebih hanya sebagai tech support saja.

      QA saat ini didominasi mereka yang tidak bisa programming. Tapi idealnya dalam devops QA seharusnya bisa, dan juga bisa membuat atau minimal menilai unit testing.

      Terkait artikel, menurut saya penulis berusaha menjabarkan bagaimana lulus kuliah tidak menjamin bisa programming, dan anehnya mengapa bisa lulus. Dan di sini, sesuai kesimpulan, saya berusaha menjabarkan bagaimana kuliah sebenarnya bukan sia-sia, tetapi manfaatnya perlu digali oleh mahasiswa/i itu sendiri.

      Semoga menjawab 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s