Programming Features

Methodology / design pattern / development driven apa yang paling bagus?

Saat sedang melihat-lihat group programming di facebook, saya pernah melihat beberapa job opportunity dengan slogan seperti berikut: “Perusahaan kami menerapkan agile dan scrum!”. Banyak juga bahasan mengenai “agile” lebih baik dari waterfall, adalah metodologi terbaik. Tidak sedikit pula junior programmer atau analyst atau project manager baru di kantor-kantor yang bersikukuh bahwa team harus mulai menerapkan agile dan scrum. Hal yang sama juga berlaku pada TDD (Test Driven Development). Benarkah scrum + TDD adalah metodologi yang terbaik?

Sebelum saya melanjutkan dengan pembahasan yang lebih detail, akan menekankan hal yang menurut saya pribadi paling penting dalam pengembangan applikasi / system:

Pergunakan tools / cara apapun yang dirasa terbaik untuk menghasilkan applikasi yang bekerja dengan baik, dan mudah diubah. “Make it works, and changeable!”

Individuals and interactions over processes and tools

Salah satu manifesto yang cukup penting dan sering dilupakan dalam agile adalah “individuals and interactions over processes and tools“, atau bisa disingkat sebagai “people over process“. Sebagai programmer / developer / analyst, terkecuali kamu adalah ConcernedApe yang men-develop indie game “Stardew Valley”seorang diri dulunya, kamu akan bekerja dalam team, berinteraksi dan membuat keputusan-keputusan bersama.

Preferensi setiap orang berbeda-beda, dan metolodogi tertentu bisa bekerja di satu kelompok orang, bisa juga tidak berfungsi di kelompok orang lainnya. Bagaimana kamu dan team developer bisa bekerja dengan baik adalah yang terpenting, proses / metodologi adalah “alat bantu” yang bisa digunakan untuk mencapainya. “Scrum user story“, “Kanban board” tidak lebih dari hanya alat bantu untuk bekerja dalam team.

Bila dalam beberapa situasi tools tersebut tidak dapat digunakan dalam team, misalnya mayoritas tidak mengerti cara pakainya, atau tidak merasa ada manfaatnya, atau misalnya projectnya cukup kecil sehingga tidak diperlukan, maka carilah alternatif tools yang lebih dapat bermanfaat bagi team. Misalnya post-it notes di cubicle kerja masing-masing, atau minutes of meeting yang di-share dalam email, atau bug tracker.

Pernah saya berdiskusi dengan seorang project manager yang cukup berpengalaman, mengapa beliau tidak menerapkan daily standup meeting, yang umumnya adalah senjata pemungkas di scrum. Beliau menjelaskan bahwa teamnya bekerja secara remote di berbagai daerah yang berbeda, sehingga daily standup meeting tidak dapat dilakukan. Selain itu, tidak selalu ada hal yang dapat di-share dalam daily meeting, sehingga beliau menerapkan rule weekly report, dan contact langsung apabila ada (laptop, mouse rusak misal atau approval) yang diperlukan. Itu adalah contoh “people over process“.

Management juga tidak akan serta merta mengubah metodologi yang sedang berjalan secara tiba-tiba, untuk mengadopsi scrum secara mendadak. Perubahan itu terlalu beresiko, apabila team tidak terbiasa dan banyak yang tidak mengerti, maka perubahan hanya akan membawa musibah daripada manfaat. Terkecuali memang ada kebutuhan untuk meningkatkan metodologi development, jangan memaksa management untuk berubah demi ego sendiri atau “hanya karena scrum lebih baik”.

Metodologi sebaik apapun tidak akan berguna bila team tidak dapat menghasilkan applikasi yang berfungsi dengan baik

Scale it!

Salah satu hal yang menarik yang saya cermati adalah tidak banyak orang yang menyadari bahwa metodologi yang berbeda bisa diterapkan dalam skala yang berbeda pula, dalam satu organisasi. Misalnya project manager dan customer menggunakan iterative waterfall untuk memecah-mecah feature development ke dalam project-project, sebagai team bisa saja development dilakukan secara agile / scrum.

Atau hingga dalam skala personal sebagai programmer, kamu bisa saja memecah task list yang diberikan menjadi iterasi2 yang bisa menghasilkan feedback dalam 2 minggu (iterasi standar scrum), dan melaporkannya ke project manager / team lead secepatnya.

Don’t forget to make it changeable!

Saya berani bertaruh, tidak ada development plan / requirement yang tidak berubah saat development. Perubahan requirement adalah sangat wajar dan sangat mungkin terjadi. Di luar negosiasi finansial yang memang bukan ranah developer, mengembangkan applikasi agar bisa mudah diubah-ubah sesuai dengan perubahan requirement adalah penting. Applikasi yang mudah diubah juga penting agar dapat menambahkan fitur dengan mudah di kemudian hari. Hal ini juga tersirat dalam agile manifesto, “Responding to change over following a plan“.

Lalu bagaimana dapat mengembangkan applikasi yang mudah dikembangkan / diubah? Salah satunya adalah dengan membuat “low coupling, high cohesion” modul (class / function). Dan TDD dapat membantu mengembangkan kode yang low coupling tersebut. Namun dengan efek samping development time yang meningkat hingga 2x dari biasa dan kompleksitas dalam unit test, tidak semua team dapat menggunakan TDD (namun pastikan menggunakan TDD bila memungkinkan).

Ada 2 pemahaman lain yang juga dapat membantu mengembangkan kode “low coupling high cohesion”, yaitu Single Responsibility Principle, dan Dependency Injection. Keduanya adalah bagian dari SOLID principle, yang menurut saya lebih bermanfaat dari ke-3 pemahaman lain dari SOLID principle.

Conclusion

Pergunakan development method yang paling cocok dan bermanfaat untuk team. Kembangkan applikasi yang berfungsi, bisa digunakan dan mudah untuk diubah. Kembangkan kode yang “Low coupling High cohesion” agar applikasi dapat diubah dengan lebih mudah.

Advertisements

Markdown preview di Visual Studio Code

Buat github contributor, pasti pernah pakai markdown (terutama README.md). Ternyata di visual studio code ada feature untuk live preview markdown file loh. Semua editan di .md file ter-reflek otomatis di panel preview, jadi tidak perlu susah-susah untuk ngecek apakah format penulisannya sudah ok apa belum. Dengan fitur ini sebagian besar formatting bisa di-lihat langsung.

Caranya hanya dengan klik kanan file .md, lalu pilih menu “Open Preview” dan halaman preview akan terbuka.

Open markdown preview menu

Node await is synchronous

Starting from node 8, or node 6 with babel, we can use a feature named async await. It makes programming asynchronous code in synchronous way. For example, let’s say a function getNumberis returning Promise with resolve, we can call the function using await like this:

async function processNumber(){
  var number = await getNumber();
  number = number + 2;
  return number;
}

Async function will always return Promise, even though it isn’t described in code. Pretty neat huh, now that we can treat the promise as function that return something (synchronously). However, as I had previously assumed, await statement is executed synchronously.

I am using the test scripts at the following github repository. The code in app.js is using Promise.all, while the code in app2.js is using async await. In both code, they will execute same function, called execThings.

var execThings = function(i){
	return new Promise(function(resolve){
		var curIndex = i;
		setTimeout(function(){
			console.log(curIndex, model);
    		resolve(model.num++);
		}, 120 - ((i * i) - (2 * i) + 5));
    });
};

This function is accepting a numeric parameter, then it will resolve an incrementing number, defined in model.num. For the sake of some randomness and asynchronous process, I use setTimeout with randomized timeout based on input argument. When executed, here is one of the result:

12 { num: 0 }
13 { num: 1 }
14 { num: 2 }
15 { num: 3 }
16 { num: 4 }
17 { num: 5 }
18 { num: 6 }
19 { num: 7 }
11 { num: 8 }
10 { num: 9 }
9 { num: 10 }
8 { num: 11 }
7 { num: 12 }
6 { num: 13 }
0 { num: 14 }
5 { num: 15 }
1 { num: 16 }
4 { num: 17 }
3 { num: 18 }
2 { num: 19 }
[ 14, 16, 19, 18, 17, 15, 13, 12, 11, 10, 9, 8, 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 ]

The top list is the log for each promise when executed. The bottom array is the Promise.all result. As we can see here, that Promise.all is executing all functions simultaneously, because the log is in unordered index. But the result is sorted according to executed promise. In the result, index 0, with value 14 is also in index 0 of Promise.all result. Index 1, same with result index, valued 16, and so on.

Now when executing app2.js (I’m using babel due to still using node 6), the result is:

0 { num: 0 }
1 { num: 1 }
2 { num: 2 }
3 { num: 3 }
4 { num: 4 }
5 { num: 5 }
6 { num: 6 }
7 { num: 7 }
8 { num: 8 }
9 { num: 9 }
10 { num: 10 }
11 { num: 11 }
12 { num: 12 }
13 { num: 13 }
14 { num: 14 }
15 { num: 15 }
16 { num: 16 }
17 { num: 17 }
18 { num: 18 }
19 { num: 19 }
[ 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19 ]

As we can see here, async await is executed in synchronous process. The index is sorted neatly and the result is also as expected. And when executing the app2.js, it takes around 5 seconds, due to waiting for timeout delay. Meanwhile app.js is executed in up to 1 second.

Conclusion

Despite being very convenient, be aware that async await feature in node 8 or above (or babel) is being executed synchronously. Meanwhile the more complex Promise.all is execute the same process asynchronously. If you have a long-running process that need to be executed in parallel, Promise.all is the answer. However if you certain that the process is still very fast when executed synchronously, it’s okay to use async await since it’s more readable.

Again, you can get the complete test scripts in this  github repository.

Oh PHP empty…

Salah satu kelemahan terbesar PHP menurut saya adalah di null / value checking. Melihat bagaimana PHP adalah interpret language berarti validasi undefined value tidak dapat dilakukan di level compiler. Lalu bagaimana PHP adalah dynamic typing juga membuat null checking lebih sulit.

Null / Undefined

Ada 2 jenis variable kosong, yaitu null dan undefined. Variable null berarti variable tersebut pernah di-declare, dan di-initialize nilainya sebagai NULL. Undefined variable, adalah variable yang tidak pernah di-declare atau sudah di-declare namun tidak pernah di-initialize. Contoh:

$null = NULL; //null variable
$null2; //masih undefined
$null = $null + 1; //nilai $null jadi 1
$null = NULL;
echo $null["key"] === NULL ? "true" : "false"; //hasilnya true
$undefined = $undefined + 1; //error undefined variable

Lucunya di PHP, NULL dianggap sebagai sebuah value. Hal ini membuat operasi matematik / string yang berinteraksi dengan NULL tidak error, seperti contoh penambahan di atas. Untuk operasi matematik, NULL dianggap 0 dan untuk operasi string maka null dianggap string kosong. Bahkan untuk array, NULL hanya akan menghasilkan nilai NULL lagi dan tidak error.

empty / isset

Tadi kita sudah melihat bagaimana null dianggap sebagai value. Tetapi tidak pada pengecekan empty / isset. Anehnya lagi, kedua operasi tersebut tidak 100% berlainan dengan arti kata !empty == isset. Anggap kita menggunakan satu set variable sebagai berikut untuk mengecek validasi empty / isset:

$one = 1;
$two = 0;
$three = "";
$four = " ";
$five = "0";
$six = "false";
$seven = false;
$eight = [];
$null = NULL;
$null2;

Snippet untuk mengecek empty

echo 'empty($one) ';
echo empty($one) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($two) ';
echo empty($two) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($three) ';
echo empty($three) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($four) ';
echo empty($four) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($five) ';
echo empty($five) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($six) ';
echo empty($six) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($seven) ';
echo empty($seven) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($eight) ';
echo empty($eight) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($null) ';
echo empty($null) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($null2) ';
echo empty($null2) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'empty($undefined) ';
echo empty($undefined) === true ? "true" : "false";
echo "\n";

Snippet untuk mengecek isset

echo 'isset($one) ';
echo isset($one) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($two) ';
echo isset($two) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($three) ';
echo isset($three) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($four) ';
echo isset($four) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($five) ';
echo isset($five) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($six) ';
echo isset($six) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($seven) ';
echo isset($seven) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($eight) ';
echo isset($eight) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($null) ';
echo isset($null) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($null2) ';
echo isset($null2) === true ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isset($undefined) ';
echo isset($undefined) === true ? "true" : "false";
echo "\n";

Hasilnya

empty($one) false
empty($two) true
empty($three) true
empty($four) false
empty($five) true
empty($six) false
empty($seven) true
empty($eight) true
empty($null) true
empty($null2) true
empty($undefined) true

isset($one) true
isset($two) true
isset($three) true
isset($four) true
isset($five) true
isset($six) true
isset($seven) true
isset($eight) true
isset($null) false
isset($null2) false
isset($undefined) false

Untuk isset logikanya cukup mudah, semua variable yang sudah di set dengan nilai apapun terkecuali NULL menghasilkan true. Untuk empty cukup beragam, sebuah variable dianggap empty bila bernilai string kosong($three), string 0 ($five), boolean false ($seven), int 0 ($two) dan array kosong ($eight).

Encapsulate in function

Khusus untuk validasi undefined, saya belum menemukan cara lain kecuali dengan empty atau isset. Contoh dalam snippet kode berikut:

function isNullOrEmpty($str){
	return !(isset($str) && $str != '');
}
echo 'isNullOrEmpty($six) ';
echo isNullOrEmpty($six) ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isNullOrEmpty($null) ';
echo isNullOrEmpty($null) ? "true" : "false";
echo "\n";
echo 'isNullOrEmpty($undefined) ';
echo isNullOrEmpty($undefined) ? "true" : "false";
echo "\n";

Hanya kode yang menggunakan variable $undefined saja yang menghasilkan PHP notice / error, lainnya tidak. Hal ini berarti kita tidak dapat meng-encapsulate function empty ke beberapa function validasi lain, seperti stringIsNullOrEmpty dan stringIsNullOrWhitespace.

Kesimpulan dan saran

Variable null dan undefined di-handle berbeda oleh PHP. Function empty dan isset juga menghasilkan validasi yang berbeda. Khusus untuk validasi variable undefined, saya belum menemukan function selain empty dan isset yang dapat meng-handle nya.

Sebagai programmer yang sudah lama menggunakan static type dan compiled language (C#), saya sudah terbiasa untuk melakukan variable declaration sehingga kemungkinan terjadinya undefined variable lebih kecil. Cukup baik untuk terbiasa melakukan variable declaration di awal function terlebih dulu untuk meminimalisir validasi empty / isset.

Pergunakan isset bila ingin me-validasi false dan empty value. Pergunakan empty bila sudah tahu kriteria-kriteria validasi yang dilakukan empty.

seminar at bizzy.co.id 22 feb 2016

Mengapa menggunakan framework?

Topik ini adalah salah satu bahasan yang cukup sering ditanyakan oleh programmer-programmer muda (saya belum tua tapi ya) yang baru akan memulai atau baru selesai memperlajari cara menggunakan framework. Sekedar flashback, penggunaan framework pada sekitar tahun 2005-an masih belum populer di Indonesia. Dan pada saat itu, konsep bahwa menggunakan framework menambahkan kode / size yang tidak perlu sangat mendominasi keputusan untuk mengarah ke scratch (tanpa framework).

Karena keterbatasan processing power dan kapasitas harddisk, sayapun pada saat itu juga mengarah untuk tidak menggunakan framework. Namun apa yang saya rasakah setelahnya adalah:

kalau kamu cukup mahir dan tidak menggunakan framework yang tersedia, kamu pasti akan membangun framework-mu sendiri

Mengapa demikian?

Susunan folder dan penempatan file

Untuk project berskala besar dengan tingkat kesulitan kompleks, susunan folder dan penempatan / pengelompokkan file menjadi suatu hal yang penting. Susunan file yang berantakan akan menyulitkan programmer-programmer lain untuk memahami kode, serta mengurangi kualitas dan meningkatkan resiko terjadinya bug.

Framework, pada umumnya sudah memiliki panduan untuk penempatan / pengelompokkan file-file dalam folder-folder tertentu. Standarisasi tersebut akan mempercepat programmer-programmer lain dalam memahami kode, atau mencari posisi kode yang menjalankan proses-proses tertentu. Contohnya folder config, constants, language dan sebagainya.

Bila tidak mengikuti / menggunakan framework yang tersedia secara umum, saya cukup yakin anda nanti akan membangun standar dan aturan pengelompokkan sendiri.

Arsitektur

Umumnya sebuah framework mengikuti susunan arsitektur tertentu. Misalnya pada php, umumnya framework-framework digunakan arsitektur MVC atau HMVC, karena paling cocok dalam server-client architecture. Bila menggunakan contoh lain, misalnya C# dan desktop, prism adalah framework MVVM untuk WPF.

Bagi programmer-programmer yang memahami manfaat arsitektur dalam pemograman, saya cukup yakin bila mereka tidak menggunakan framework yang tersedia, maka mereka akan membangun arsitektur yang mirip (misal dengan MVC).

Class Library

Project yang kompleks memerlukan banyak sekali operasi yang beragam. Namun tidak sedikit dari operasi tersebut yang mirip, berulang dan dapat dikelompokkan menjadi library / class library. Contohnya: logging, serialization, export to excel/csv, image manipulation dan masih banyak lagi.

Framework umumnya sudah memiliki cara sendiri / standar untuk meng-organize library-library tersebut. Contohnya pada laravel yang sudah menggunakan composer sebagai package manager, dan PSR4 untuk autoload class.

Common cases / operation

Mirip dengan class library, ada beberapa kasus / operasi yang umum dan sering ditemui dalam pengembangan applikasi. Contohnya bila dalam php adalah routing, login authentication, response type dan view templating. Umumnya framework sudah mendukung operasi-operasi tersebut.

Standar pengembangan, update dan komunitas

Keuntungan dari menggunakan framework yang tersedia, adalah framework tersebut sudah memiliki standar pengembangan (penempatan kode). Framework juga umumnya diupdate mengikuti teknologi terbaru, dan memiliki komunitas pengguna yang secara tidak langsung meningkatkan kualitas framework, dan mengurangi kemungkinan bug yang ada.

Kesimpulan

Banyak keuntungan yang didapat dengan menggunakan framework. Dan meskipun seseorang yang mahir tidak menggunakan framework yang sudah tersedia, cepat atau lambat applikasi yang dikembangkan akan mengarah dan pada akhirnya menghasilkan framework buatan sendiri.

I’ve just realized that my web app is not keyboard friendly. How’s yours?

Visual FoxPro!

Today I’ve met a senior programmer. He used visual foxpro for his latest ERP system. Honestly I’m amazed with what kind of features that foxpro can provide and how good they are. Foxpro, really? That old not-popular programming language? Maybe that’s what you have in mind. But honestly, you’ll be amazed by how good Foxpro interact with database objects. Moreover, how fast the database is! Though it haven’t being tested over 50 users though.

I’m amazed at the features of foxpro!

So? Do we all move to foxpro all together? No, foxpro is good, but not in every aspect. One of the reason is that application structure is very tightly coupled with the data object, which is good for administrative tools but not for the other. I’m not using foxpro, so I can’t give more reason, and that topic is not what I want to discuss now.

It’s a desktop app!

I just want to shared that the visual foxpro that has been developed is desktop app. I must admit that no matter how good you are at web programming, you can’t defeat the UI functionality and keyboard-friendly functionality of desktop apps. There isn’t even safe cross browser hotkey that can be used in web. While in app, you can easily navigate using arrows, tabs, function keys (I’m pointing at you, F1-F12!), page up page down, control + keys, etc. Not to mention the responsiveness, and the functionality of one-page application (nah, ajax can’t even compete with it).

Web apps won’t win against desktop in UI and keyboard functionality

Man, I missed the desktop-based development time of my university time.

But that’s it. Desktop integrated system is losing popularity over year, as better web environment is emerging such as web socket, html5, css3, etc. But I must say that web apps will never beat desktop apps for transaction-intensive activities. No POS (point of sales) in hypermarkets using it.

Hypermarket using web-based POS? How slow will it be?

Do you imagine integrating barcode scanner with web apps? Do you imagine using mouse to choose which payment method? What will happen if they need to wait for respond after submitting, waiting for the payment change? That won’t do. We must back to our very first factor of application development: requirement. If they require it, then it must be done.

The very first factor of application development: requirement

So, we back to desktop app?

Yes for that particular activities. But how many of those transaction-intensive activities are there? There won’t be many of that kind transaction in today’s business. More often we need flexibility and portability more than keyboard shortcut. Let’s say reports, approvals, notes, attachments, all of them are better cross-browsers and portable. Employee self service (reimbursement, leave) is better online. Marketing will be more awesome online, since it can directly communicate to media via links and connections.

Of course we must ignore web-specialized features such as online trading, blog and social media though.

reports, approvals, notes, attachments, reimbursement, leave is better online

Conclusion

We go back to the very first rule of application development: requirement. If it is required to have intensive-transaction application or embedded devices (printer, barcode scanner), then use desktop. If not, then it’s better web since it’s easier to access and easier to maintain and publish. So, compare and plan before deciding the approach!

Microsoft SQL Server : What you need to know as beginner developer?

I realized that Microsoft SQL server is easy to use and setup. It’s UI (management studio) is easy to use, user friendly and nice. However, used by beginner developer, usually the SQL Server will perform bad. As a beginner at MS SQL Server world, what do you need to know?

In this series, I will provides hints and small description about what topics you need to learn beforehand. If you need detailed explanation, you need to do detailed research yourself.

Database transaction isolation level and lock hints

This is the very first thing that you need to know when developing system with SQL Server as database. Why? Because not knowing this will grant you over 80% possibility of deadlock when used in high-transaction system.

By default, MS SQL Server use Serializable isolation level for read queries (select). It is the heaviest-locking isolation level that you can achieve with SQL Server. The most secure, but also the most problematic. It basically locks the table (or page) every time you do select/insert/update/delete queries. In heavy read and light write applications such as stackoverflow, this usually cause problems.

Microsoft recommend Read Committed Snapshot Isolation (RCSI) level for common system. But still you need to search for yourself the best isolation level that is most suit with your apps.

Auto-commit transaction

By default, MS SQL enables the auto commit feature, means that every insert/update/delete that is not inside a transaction will be wrapped in a transaction and committed. This is bad for performance, because every commit will add record into your database log and it hurts performance. This is especially happen in looped-generated statement (to insert/update/delete many rows from applications).

Basically to avoid this, you need to wrap your statements in a transactions, or set auto commit off.

Backup Recovery Model

By default, MS SQL has backup recovery model set to FULL. In contrast to SIMPLE recovery model, full recovery model enables you to point-in-time recovery per transaction committed. While in simple model it is not supported. In short, set to simple model if you don’t think that point-in-time recovery is required, especially in logging database.

Indexing

Indexing is complex, but in case you need to maintain database performance against big volume data, you need to learn indexing. First, you need to know how to get the query execution plan. Next, you need to know the index seek vs index scan, key lookup, and sargable query.

In short, what I recommend is:

* Always use primary keys in all your tables,

* If you need to do join query, ordered by recommendation, it’s better if you can:
1) join between primary key/foreign key
2) the joining field contains same data type and length
3) avoid computational at where clause or joining fields, eg: isnull, where fieldA < fieldB + 1
4) do not use leading wildcard (percent) in string search

Connection overhead

Opening connection and user authentication is providing some performance impact. It is not much, but exists, especially when the application server is far away from database server. Please note that stating there is connection overhead does not means that keeping the connection open is the solution. What you need to avoid is opening/closing connection inside an application loop. It’s better to re-factor it to become more like set-based operation.

Scalar vs table-valued function

In MS SQL, there are 3 types of functions, that is scalar function, table valued function and multi-statement table-valued function. Execution plan wise, scalar and multi-statement table valued is same, while table-valued function is operated more like accessing view. So let’s consider multi-statement table valued function the same as scalar in this topic.

Scalar function inside select column / join / where clause will be converted in looping operations. Meanwhile table-valued function will be treated the same as view, and then being included in query plan as set operations. So, in short, if the function you defined is accessing any table, avoid define it in scalar function.

Conclusion

SQL Server, after being installed can be easily used. But not knowing the features of SQL Server and then using it to make complex system can cause problems. Before actually using it in real system, I suggest that you at least know the points I described above.

However, even if I know those points, it does not immediately makes me know all the SQL Server and the best configurations for each scenarios. I am not a database administrator after all.